Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dilema Sulitnya Membuat SIM di Indonesia

MENGKLIK IKLAN SAMA DENGAN SEDEKAH


beberapa waktu lalu, terdapat seorang pegiat antikorupsi, Emerson Yuntho dengan akun twitternya @emerson_yunthomengunggah sebuah cuitan. Unggahan tersebut berisi surat terbuka kepada Bapak Presiden Joko Widodo. Dalam surat tersebut, terdapat permintaan untuk membenahi Satuan Penyelenggara Administrasi SIM (SATPAS) dan Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT).


Beliau juga menyindir terhadap buruknya sistem untuk mendapatkan SIM di Indonesia. Ujar beliau, sekelas Lewis Hamilton dipastikan gagal ujian untuk mendapatkan SIM A dan sekelas Valentino Rossi akan gagal juga untuk mendapatkan SIM C.


Sebelumnya, perlu kita ketahui bersama, apa saja syarat-syarat yang dibutuhkan dan tes apa saja yang harus kita ikuti. Beberapa persyaratan permohonan pembuatan SIM yaitu sudah berumur 17 tahun dengan ditandai adanya kepemilikan KTP, bisa membaca dan menulis, dan memiliki pengetahuan peraturan lalu lintas jalan dan teknik dasar kendaraan bermotor.


Tidak hanya itu, pemohon pembuatan SIM juga harus melakukan beberapa tes, di antaranya tes kesehatan, tes tertulis tentang lalu lintas, dan yang terakhir tes praktek. Nah di bagian tes praktek ini, pemohon harus mengemudikan motor dengan trek lintasan yang sudah diatur oleh petugas. Biasanya pada bagian ini, banyak sekali peserta yang bolak balik ke kantor hanya untuk menyelesaikan tes praktek. Ada beberapa alasan yang membuat sulitnya tes praktek ini, diantaranya sulitnya lintasan yang mungkin beberapa orang menuturkan, Valentino Rossi saja tidak mungkin berhasil.


Kasi Satpas SIM Ditlantas Polda Metro Jaya, Fahri Siregar menuturkan bahwa peserta yang gagal dalam tes praktik memang tak perlu mengulang dari ujian teori, tetapi hanya perlu mengulang tes praktik saja. Namun, pengulangan tes tersebut tidak bisa dilakukan di hari yang sama. Mungkin ini menjadi salah satu penyebab banyaknya peserta yang beralih untuk membuat SIM kepada calo.


Ya, sudah menjadi hal yang lumrah di masyarakat. Banyak sekali peserta pembuatan SIM melakukan permohonannya kepada calo. Memang mereka mematok harga yang cukup tinggi, tetapi wajar saja pembuatan SIM ini tanpa melakukan tes apa pun alias tinggal menunggu jadi. Oleh karenanya, sekarang banyak sekali masyarakat yang memilih jalur ini, ketimbang mereka harus melakukan tes yang begitu sulit dan bahkan belum tentu mereka lolos.


Kesimpulan dari saya, semoga pemerintah segera membenahi sistem administrasi dalam pembuatan SIM yang masih dianggap sulit ataupun dipersulit. Percuma saja adanya tes yang begitu sulit, tetapi ada pilihan lain yang hanya menunggu jadi. Perbuatan itu memang salah satu sikap yang masuk dalam kategori KKN dan semoga oknum calo tersebut segera diberantas supaya masyarakat tidak seenaknya saja mendapatkan SIM tanpa tahu aturan ataupun prosedur yang ada. Hal ini juga dapat mengurangi tingkat kecelakaan di Indonesia.


Lalu, menurut Ensipedian, setujukah jika sulit membuat SIM di negeri ini?. Apakah memang tesnya yang benar-benar sulit atau dipersulit? Yuk! kita rumpi sama-sama.

---------------------------------------------------

Referensi:

[1]. Fitriatus. Shalihah Nur. 2021. "Ramai Twit "Valentino Rossi Tak Akan Lolos Tes SIM C di RI, Ada Apa?". Akses link https;//www,kompas,com/tren/read/ 2021/ 09/ 16/ 202900165 /ramai-twit-valentino-rossi-tak-akan-lolos-tes-sim-c-di-ri-ada-apa pada September 2021.

[2]. Dananjata. Dio. 2019. "Sulitnya Mendapatkan Surat Izin Mengemudi". Akses link https;//tirto,id/sulitnya-mendapat-surat-izin-mengemudi-edpH pada September 2021.