Aspal Penyerap Air Untuk Atasi Banjir Ciptaan Perusahaan Ini Bikin Tercengang

MENGKLIK IKLAN SAMA DENGAN SEDEKAH

 


Di saat musim hujan, beberapa daerah di Indonesia seringkali menjadi langganan banjir. Salah satu penyebab banjir adalah kurang baiknya sistem drainase. Sebuah perusahaan asal Inggris, Lafarge Tarmac, menciptakan inovasi pencegah banjir berupa aspal penyerap air dengan nama Topmix Permeable. Aspal ini mampu menyerap 1.000 liter per m2 per 1 menit.


Aspal tersebut dapat menyerap air karena terdapat lapisan aspal berpori pada permukaannya, kemudian air mengalir melalui matriks agregat (kerikil) dengan rongga lebih besar pada lapisan di bawahnya. Pada lapisan paling bawah, dibuat saluran drainase yang disalurkan ke saluran pembuangan. Maka, dengan sistem tersebut banjir dapat di atasi.


Lalu, bagaimana dengan di Indonesia?


Di Indonesia sendiri, terdapat inovasi yang hampir serupa yaitu Aspal Geopori. Aspal Geo Polimer (Geopori) diciptakan oleh seorang insinyur teknik fisikawan yang juga merupakan dosen ITB, yaitu Prof. Bambang Sunendar Purwasasmita. Aspal tersebut sudah diciptakan sejak 2015 dan terdapat dua jenis aspal dengan sifat dan fungsi yang berbeda.


Tipe aspal yang pertama, diperuntukan untuk badan jalan. Sifat fisiknya sangat keras dan padat seperti keramik. Namun, aspal tipe ini tidak menyerap air. Tipe tersebut memiliki kemampuan menahan beban hingga 55 ton per m2. Sebagai perbandingan, aspal dengan material semen beton hanya memiliki kekuatan 25-30 ton per m2. 


Untuk aspal tipe kedua, memiliki ketahanan untuk menahan beban sebesar 1,5 ton per m2. Aspal tipe inilah yang mampu menyerap air karena memiliki pori besar. Kemampuan penyerapannya yaitu hingga 2.000 liter per m2.


Aspal Geopori berbentuk seperti paving blok, sehingga penggunaannya lebih diperuntukan pada jalan lingkungan atau perumahan atau dapat juga digunakan pada trotoar di jalan besar. Dengan aspal ini, air hujan akan diserap ke dalam tanah. Jika tanah jenuh, barulah air dialirkan ke drainase.


Geopori dibuat dari campuran batu kerikil dan pasir yang ditambah debu sisa pembakaran batu bara. Menurut Prof Bambang, aspal geopori ini diklaim ramah lingkungan karena menggunakan limbah yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap. Selain itu, proses produksinya kebih murah dari paving blik karena proses pengerasan atau polimerisasinya tidak menggunakan panas.


Aplikasi yang Terhambat Regulasi Bahan Beracun dan Berbahaya


Walaupun aspal geopori ini memiliki banyak manfaat, teknologi ini belum dapat diaplikasikan. Penyebabnya yaitu kurangnya kesadaran masyarakat akan teknologi ini. Selain itu, abu sisa pembakaran batubara termasuk dalam Undang-Undang tentang Bahan Beracun dan Berbahaya (B3). Sehingga masyarakat tidak bisa memanfaatkannya dengan leluasa. Saat ini, bahan abu sisa pembakaran batubara baru dapat digunakan untuk skala laboratorium.


Sayang sekali ya, teknologi yang ramah lingkungan serta memiliki manfaat seperti ini belum bisa diaplikasikan secara masal. Semoga kedepannya dapat dilirik dan mungkin dapat dikembangkan!


______________________________

Defender merupakan divisi EB yg bertugas untuk menjaga laju aktivitas member di dalam grup termasuk memberikan sanksi terhadap pelanggaran, melakukan filter untuk postingan, serta menghapus komentar yang tidak pantas untuk ditampilkan.]

 ______________________________



Referensi:

[1] Pasha, Afifah Cinthia. 2019. “Aspal Penyerap Air untuk Atasi Banjir Ciptaan Perusahaan Ini Bikin Takjub”. Diakses dari https;//hot.liputan6,com/read/4006769/aspal-penyerap-air-untuk-atasi-banjir-ciptaaan-perusahaan-ini-bikin-takjub#:~:text=Produk%20dari%20Tarmac%20diberi%20nama,m2%20dalam%20waktu%20satu%20menit. pada 6 Okt 2021


[2] Hamdani, Dani. 2019. “Ilmuan dan Penemu Aspal Geopori – Bambang Sunendar Purwasasmita (TF77)”. Diakses dari Rumah Ikatan Alumni Teknik Fisika ITB https;//iatf-itb,org/2019/03/24/ilmuwan-dan-penemu-aspal-geopori-bambang-sunendar-purwasasmita-tf77/ pada 6 Okt 2021.

Next Post Previous Post